INFOPenerimaan Santri Baru (PPDB) Online Telah Dibuka!
Tokoh

Dari Pengembala Ternak hingga Jadi Rektor dan Ketua PWNU NTB: Mengenal Sosok Inspiratif Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag

Oleh: Admin Dipublikasikan: Selasa, 21 Juli 2026


Dunia pendidikan Islam dan jam'iyah Nahdlatul Ulama di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak bisa dilepaskan dari sosok Prof. Dr. H. TGH. Masnun Tahir, M.Ag. Pria yang saat ini mengemban amanah sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram sekaligus Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) NTB ini merupakan representasi nyata bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk mencapai puncak prestasi akademik dan khidmah keagamaan.
Masa Kecil yang Penuh Tirakat dan Perjuangan
Lahir di Dusun Tenten Lauk, Desa Bujak, Batukliang, Lombok Tengah pada tanggal 27 Agustus 1975, Masnun tumbuh dalam lingkungan keluarga petani yang sangat sederhana. Putra dari pasangan HM. Tahir dan Hj. Asmaul Husna ini melewati masa kecilnya dengan penuh kerja keras. Jauh sebelum menyandang gelar profesor, ia adalah seorang anak desa yang terbiasa menggembala ternak, mencari rumput, hingga menjadi kuli bangunan demi membantu ekonomi keluarga dan membiayai pendidikannya. Pengalaman hidup yang penuh tirakat inilah yang kelak membentuk mentalitasnya menjadi pribadi yang tangguh, disiplin, dan berintegritas tinggi.
Jejak Santri dan Petualangan Intelektual di Kota Pelajar
Pendidikan dasar Masnun diselesaikan di SDN Lendang Terong pada tahun 1987. Jiwa santrinya mulai ditempa ketika ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Uswatun Hasanah, Cempaka Putih. Ketertarikannya yang mendalam pada ilmu-ilmu agama membawanya lulus ke Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MANPK) Mataram, sebuah program prestisius yang mencetak kader-kader ulama muda pada masanya.
Selepas dari MANPK Mataram, Masnun memutuskan untuk merantau ke Kota Pelajar, Yogyakarta. Ia menempuh kuliah sarjana (S1) di Fakultas Syariah, Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di kota ini, tradisi kepesantrenannya tidak luntur. Sembari kuliah, ia memilih menjadi "Santri Kalong" di Pondok Pesantren Minhajul Muslim dan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak. Ia juga aktif menimba ilmu langsung dari para ulama dan kiai sepuh di Masjid UIN Sunan Kalijaga, seperti KH. Machasin dan KH. Abdul Malik Madaniy.
Semangat belajarnya yang tidak pernah padam membawa Masnun menyelesaikan program Magister (S2) Hukum Islam dan program Doktor (S3) di kampus yang sama pada tahun 2011. Selama menempuh studi doktoral, ia bahkan berkesempatan mengikuti program Sandwich Partnership of Islamic Education Scholarship di Australian National University (ANU), Canberra, Australia.
Khidmah di Jalur Akademik dan Nahdlatul Ulama
Karier akademik Masnun berjalan beriringan dengan dedikasinya pada dunia dakwah. Ia tercatat pernah mengabdi sebagai guru sekaligus Kepala Madrasah Aliyah di pesantren tempatnya dahulu belajar, sebelum akhirnya diangkat menjadi dosen tetap di UIN Mataram. Pada Maret 2018, dalam usia yang relatif muda, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar (Profesor) dalam bidang Hukum Perdata Islam. Sebelum dipercaya menjadi Rektor UIN Mataram, ia terlebih dahulu mengemban amanah sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan.
Di luar kampus, pengabdiannya kepada umat diwujudkan melalui jalur struktural Nahdlatul Ulama. Pengalamannya sejak mahasiswa di PMII Yogyakarta, PW Ansor NTB, hingga IPNU NTB, mengantarkannya terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU NTB. Di bawah kepemimpinannya, PWNU NTB terus bergerak aktif membangun sinergi antara jaringan anak muda, kaum intelektual, dan para Tuan Guru di bumi Seribu Masjid. Beliau juga aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) NTB dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) NTB.
Keteladanan bagi Generasi Santri Masa Kini
Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. adalah bukti hidup bahwa jalur pesantren dan nilai-nilai kesantrian mampu mencetak kader pemimpin yang unggul di level nasional bahkan internasional. Di tengah kesibukannya yang padat mengurus universitas dan organisasi, ia tetap konsisten melahirkan puluhan karya tulis ilmiah dan buku, di antaranya bertajuk Fikih NKRI Suatu Tawaran Paradigma Hukum Perdata Islam Kontemporer di Indonesia dan Politik Hukum Islam di Indonesia.
Kisah perjalanan hidup Prof. Masnun mengajarkan kepada seluruh santri di pelosok negeri bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan ketekunan membaca, kedisiplinan berkhidmah, dan rida dari para guru, seorang anak pengembala ternak pun bisa bertransformasi menjadi seorang ulama, akademisi, sekaligus pemimpin umat yang disegani.

Bagikan Informasi Ini: